Hasil Kebudayaan Masa Bercocok Tanam

Hasil Kebudayaan Masa Bercocok Tanam

Pendahuluan: Hasil Kebudayaan Masa Bercocok Tanam

Dreamhub.id – Artikel ini akan membahas tentang Hasil Kebudayaan Masa Bercocok Tanam. Kehidupan masyarakat dahulu dan sekarang sangatlah berbeda, terutama dalam hal mencari makan. Pada awalnya, orang-orang di tahun lalu tinggal gua. Kemudian masa waktu tanam diperkirakan terjadi pada masa Neolitikum. Ingin melihat lebih melihat lebih mendalam dalam kehidupan masyarakat pada zaman Neolitikum? pada​​​​ Baca ringkasannya di bawah ini.

Masa Bercocok Tanam pada Zaman Manusia Purba

Berdasarkan di buku​ Sejarah Indonesia dan Dunia karya Sejarah Octa Samira, dkk, Neolitikum atau Zaman Batu Muda adalah masa prasejarah saat orang menggunakan alat batu pecah. Sekarang adalah revolusi budaya yang sangat besar dalam peradaban manusia saat ini. Pada periode Pada masa Neolitikum, terjadi perubahan besar berdasarkan perubahan besar berdasarkan gagasan mengubah hasil panen menjadi makanan, atau membuat makanan dari awal.

Melihat masyarakat sudah terbiasa dengan tradisi berdagang barang atau berdagang, beternak dan mengembangkan budaya pertanian, meskipun dalam tataran yang sangat sederhana. Pada tahun itu, tempat liburan permanen seperti rumah nyaman dibangun, dan pohon tangan ditanam. Ini sampai kehidupan sosial Neolitikum disatukan oleh orang yang mengembangkan gotong royong, menetapkan aturan hidup bersama, dan berkesempatan pada makhluk halus.

Ciri-Ciri Neolitikum 

Beberapa fakta tentang kehidupan masyarakat​​ Neolitikum pada Zaman Perunggu yakni:

  • Tongkatnya sudah dipotong dan diretas.
  • Tempat dimana tinggal pria itu ditemukan milik pria itu​​tinggal telah ditemukan.
  • Perubahan dari mengumpulkan makanan menjadi makanan yang sedang tumbuh.
  • Anggota anggota komunitas makan tanam dan beternak makan tanam dan beternak.
  • Ini menunjukkan Kebudayaan kapak lonjong dan kapak persegi.

Masyarakatnya Telah Mengenal Kepercayaan

Sistem kepercayaan masa tanam akan hal gaib dalam masa cocok tanam, dan orang yang meninggal akan memasuki alam lain. Oleh tentang ini, semuanya itu yang sedang berjuang akan diberikan banyak bantuan setiap harinya. Melalui kepercayaan ini, tradisi pendirian bangunan besar yang merupakan tradisi megalitik ada. Beberapa contoh bangunan megalitik​adalah dolmen, menhir, waruga, sarkofagus, dan punden berundak. Di masa cocok tanam, sistem kepercayaan bisa terbagi menjadi dua aliran: animisme (kepercayaan terhadap roh leluhur) dan dinamisme (kepercayaan terhadap benda gaib).

Hasil Kebudayaan Masa Bercocok Tanam

Kebudayaan Kapak Persegi

Orang-orang pertama yang menggunakan nama kapak mana, dan kapak persegi adalah von Heine Geldern setara adalah von Heine Geldern. Nama benda ini ada hubungannya dengan jenis alat yang mereka temukan, yaitu suatu kuantitas. Terdapat porositas berbentuk persegi panjang dan porositas berbentuk trapesium. Seringkali waktu itu, menyebutkan kapak besar juga dengan beliung atau cangkul, dan ada yang memberi pegangan menyerupai bentuk cangkul kini.

Kebudayaan Kapak Lonjong 

Nama “Lonjong” berasal dari bentuk alat ini yang terbuat dari lonjong. Peralatan ini berbentuk lonjong seperti bulat telur, dengan titik yang lancip​​ tersedia ukuran topi lonjong yang berbeda-beda. Yang terbesar menyebutkan dengan walzenbeil, dan yang terkecil menyebutnya dengan kleinbeil.

Peninggalan Zaman Neolitikum 

Selain kapak persegi dan lonjong, terdapat juga peninggalan Neolitikum yang tidak terbuat dari batu, yaitu:​

Perhiasan

Perhiasan adalah banyak sekali gelang dan kalung perhiasan dari indah batu di Jawa.

Pakaian

Di Kalimantan, Sulawesi Selatan, dan beberapa beberapa tempat lain, Anda bisa menemukan alat pemukul kayu yang biasa masyarakat gunakan untuk membuat pakaian. Di atas gundukan kerang di Sumatera, Anda dapat menemukan tembikar atau periuk. Ada pecahan-pecahan kecil, tembikar bisa terlihat berhias gambar-gambar yang yang mereka peroleh dengan menekan benda di atas tanah yang belum kering. Mungkin bahwa orang-orang dari zaman Neolitikum masih hidup.

Tembikar

Gundukan kerang di Sumatera, Anda dapat menemukan tembikar atau periuk. Anda juga akan banyak menemukan tulang periuk di Perbukitan Pasir yang berada di perbatasan Yogyakarta dan Pacitan. Zaman manusia purba Neolitikum berpengaruh penting terhadap kehidupan manusia, di mana sebelumnya harus mencari makanan dengan berburu atau berkumpul bersama makanan menuju produksi sendiri atau produksi makanan. Jadi, manusia prasejarah saat ini tidak perlu berpindah-pindah tempat untuk bisa memanfaatkan kebutuhan hidupnya.

Penutup: Hasil Kebudayaan Masa Bercocok Tanam

Kemunculan manusia pada periode baru menendainya dengan perubahan yang signifikan. Budaya jelas merupakan hasil observasi yang semakin kompleks dan terstruktur. Semuanya menekankan kreativitas dan kecerdasan manusia di zaman sekarang. Mulai dari sistem pendidikan yang inovatif mereka menekankan akhir dengan dialog dan metode pembelajaran yang tidak konvensional. Mempelajari hasil masa keemasan perjalanan tidak hanya membuat kita kembali ke masa lalu, tetapi juga memberikan inspirasi dan pelajaran berharga untuk masa kini. Sekian artikel tentang ”Hasil Kebudayaan Masa Bercocok Tanam”, semoga dapat bermanfaat. Terimakasih!!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *